A.
LATAR BELAKANG
Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya
hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku
industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya.
Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa
difahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam serta pembesaran
hewan ternak, meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme
dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan
tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi
hutan.
Bagian terbesar penduduk dunia bermata pencaharian dalam bidang-bidang di lingkup pertanian, namun pertanian hanya menyumbang 4% dari PDBdunia. Sejarah Indonesia sejak masa kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan perkebunan, karena sektor - sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2002, bidang pertanian di Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.
Kelompok ilmu-ilmu pertanian mengkaji pertanian
dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya. Inti dari ilmu-ilmu pertanian adalah
biologi dan ekonomi. Karena pertanian selalu terikat dengan ruang dan waktu,
ilmu-ilmu pendukung, seperti ilmu tanah, meteorologi, permesinan pertanian,
biokimia, dan statistika, juga dipelajari dalam pertanian. Usaha tani (farming)
adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang
dilakukan dalam budidaya. Petani adalah sebutan bagi mereka yang
menyelenggarakan usaha tani.
Meningkatkan
produksi pertanian suatu negara adalah suatu tugas yang kompleks, kerena
banyaknya kondisi yang berbeda yang harus dibina atau diubah oleh orang ataupun
kelompok yang berbeda pula. Seperti halnya permasalahan pertumbuhan penduduk
yang tinggi yang mengimbangi permintaan atas kebutuhan pangan meningkat pesat,
namun hal tersebut tidak diimbangi dengan produksi hasil pertanian yang mampu
untuk memenuhi permintaan kebutuhan akan bahan pangan. Namun hal itu juga
mendorong para petani untuk mencoba menanam jenis-jenis tanaman baru, dan
dengan bantuan para insinyur dan para peneliti untuk mengembangkan varietas
tanaman tersebut dengan menemukan teknik penggunaan pupuk, mengatur kelembapan
tanah yang lebih maju serta menggunakan teknologi pertanian yang lebih maju
untuk mengembangkan pembangunan pertanian ke arah yang lebih baik sehingga
mampu untuk memenuhi kebutuhan pangan dari jumlah masyarakat yang terus
meningkat.
B.
PENGERTIAN PERTANIAN MASA DEPAN
Pertanian
masa depan adalah pertanian berkelanjutan, berlanjut untuk saat ini, saat yang
akan datang, dan selamanya. Artinya pertanian tetap ada, bermanfaat dan tidak
menimbulkan masalah bagi semuanya. Pertanian ini meliputi komponen fisik,
biologis, dan social ekonomi yang direpresentasikan dengan sistem pertanian
yang melaksanakan:
1. Pengurangan
input bahan-bahan kimia di bandingkan pada sistem pertanian tradisional
2. Pengendalian
erosi tanah dengan baik
3. Pengendalian
gulma
4. Memiliki
efisiensi kegiatan pertanian dan bahan-bahan input maksimum
5. Pemeliharaan
kesuburan tanah dengan menambahkan nutrisi tanaman
6. Penggunaan
dasar-dasar biologi pada pelaksanaan pertanian
7. Dapat
berlanjut secara ekonomis
8. Manusiawi
Pertanian
masa depan yang mempertahankan keberlangsungannya, keberlanjutannya dapat
dilakukan dengan mengadakan pertanian organik, dan atau pertanian agroforestry.
Pertanian organik yaitu pertanian yang ramah lingkungan, dengan hasil yang
bersifat ramah lingkungan dan sehat serta bernilai gizi tinggi. Menghormati
seluruh kehidupan adalah prinsip yang menakjubkan dari pertanian organik.
Pertanian agroforetry adalah pertanian berdasarkan fungsi hutan, yaitu menyerap
dan menyimpan air ketika musim hujan dan mengeluarkan cadangan air dalam tanah
tersebut melalui mata air. Didalamnya dikembangkan kombinasi produksi tanaman
budidaya, tanaman hutan, dan hewan-hewan pada lahan yang sama.
C.
POLA PERTANIAN MASA DEPAN
a.
Pertanian Konvensional
Pertanian
konvensional adalah pertanian seperti yang dilakukan oleh sebagian besar petani
di seluruh dunia saat ini. Pertanian ini mengandalkan
input dari luar sistem pertanian, berupa energi, pupuk, pestisida untuk
mendapatkan hasil pertanian yang produktif dan bermutu tinggi. Pada masa yang akan datang sistem pertanian ini akan lebih ramah
lingkungan bersamaan dengan lebih banyak input teknologi. Perkembangan atau kemajuan pertanian konvensional pada masa depan
dibandingkan masa sekarang terjadi karena peran penelitian bidang ekofisiologi
dan pumuliaan tanaman, serta karena tuntutan masyarakat. Kemajuan itu antara lain berupa:
1.
Digunakannya varietas-varietas tanaman yang lebih
produktif, lebih bermutu, lebih tahan atau toleran pada hama dan penyakit
utama, lebih tahan pada kekurangan air dan hara, serta dapat berproduksi tinggi
pada lahan-lahan marginal.
2. Lebih memanfaatkan biota di lingkungan pertanian, baik
untuk meningkatkan kesuburan lahan, maupun toleransi terhadap OPT.
3. Penggunaan pupuk akan lebih bijaksana, berdasarkan
Integrated Plant nutrition System, sehingga tidak berlebih, berdasarkan
kebutuhan riel tanaman, tidak banyak yang tercuci dan mencemari lingkungan.
4. Penggunaan pestisida akan sangat berkurang; pengendalian
organisme pengganggu tanaman akan berdasarkan PHT.
5. Konsolodasi lahan-lahan pertanian akan terjadi, sehingga
pengelolaan sistem produksi akan lebih mudah.
6. Tenaga kerja di pertanian berkurang karena urbanisasi dan
menjadi pekerja pada sektor industri, sehingga:
· terjadi peningkatan mekanisasi pertanian,
· input energi biologi (tenaga ternak atau tenaga manusia)
akan banyak diganti energi mekanik berbasis biologi, seperti biodisel maupun
bioetanol,
· daya tawar petani dan buruh tani lebih tinggi, sehingg
kesejahteraannya meningkat.
7. Produktivitas pertanian akan meningkat lagi setelah
leveling off yang terjadi bisa diatasi.Produksinya juga lebih bermutu, lebih
bergizi, lebih aman karena sistem pertanian dikelola dengan lebih baik.
8. Petani akan mempunyai catatan pertanian, sehingga
tuntutan terhadap traceability dapat dipenuhi.
b.
Pertanian Konservasi
Pertanian Konservasi juga akan meluas. Ada kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai tuntutan terhadap pangan yang bebas pestisida dan bebas dari pupuk kimia, serta kelompok yang ingin agar pertanian tidak mencemari lingkungan. Dua kelompok masyarakat ini akan semakin besar di dunia, demikian pula di Indonesia.Produktivitas sistem ini pada umumnya rendah, lebih-lebih pada beberapa tahun kemudian; mutu fisik/visual produk juga rendah, tetapi keamanannya tinggi dan dipercaya oleh sebagian konsumen nilai zat berkhasiatnya yang terkadung di dalamnya tinggi.Namun, karena adanya permintaan yang semakin besar dari kelompok-kelompok ini akan mendorong semakin luasnya pertanian konservasi. Pada pertanian konservasi, prinsip utamanya adalah pertanian yang mengandalkan dan berusaha mempertahankan kelestarian alam. Dengan pertanian konservasi diusahakan agar tidak terlalu banyak gangguanan ekosistem dalam alam pertanian. Pertanian ini lebih mengandalkan mekanisme ekobiologi dari alam sehingga input yang diberikan pada sistem pertanian ini diusahakan serendah mungkin. Kalaupun intu diberikan, maka input tersebut berupa bahan-bahan organik alamiah yang bukan hasil budaya. Studi ekofisiologi akan memegang peran penting dalam meningkatkan produktivitas dan kelestarian sistem ini.
c.
Pertanian Dengan Teknologi Tinggi
Pertanian Teknologi Tinggi juga akan meningkat pada masa depan. Pertanian ini akan sngat produktif, produknya bermutu tinggi, aman, kandungan gizi dan zat berkhasiat yang ada di dalamnya bisa diatur sesuai kebutuhan. Karena itu, pertanian ini memerlukan input tinggi, baik berupa teknologi, bahan-bahan kimia maupun energi.Pertanian ini bisa mengatasi kendala dan hambatan alam, bisa sangat efisien tepai bisa juga tidak efisien. Pertanian ini juga mungkin tidak menyebabkan degradasi lahan pertanian, maupun alam sekitar karena tidak mengandalkan alam dalam produksi. Pertanian ini lebih mengandalkan teknologi dan input dari hasil budaya. Pertanian ini hanya akan melibatkan pemodal besar, bukan petani. Karena itu ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian:
1. Apakah sistem ini benar-benar efisien; tidak hanya dari
efisiensi ekonomi, tetapi juga teknik, energi, budaya, dan sosial?
2. Apakah sistem ini bebar-benar aman bagi planet bumi,
tidak sekedar lingkungan sempit lahan pertanian; baik pada masa kin i maupun
masa jauh ke depan?
Studi ekofisologi akan dapat membantu dalam memecahkan
pertanyaan-pertanyaan ini.
D.
SISTEM PERTANIAN MASA DEPAN
a.
Pertanian Masa Depan Di Dalam Dan Bawah Tanah
Sistem pertanian masa depan tak lagi mengandalkan
pertanian di lahan luar, melainkan bergeser ke pertanian dalam ruang. Dalam
sistem ini, keberadaan sinar matahari dan curah hujan menjadi tak penting
karena kondisi iklim diatur. Bercocok tanam dalam ruangan dapat dilakukan di
gedung-gedung tinggi, dalam bunker bawah tanah , maupun ditenggah padang pasir.
Sistem bercocok tanam ini menggunakan ruang tanpa jendela dengan cahaya, suhu,
kelembaban , kualitas udara, dan nutrisi bagi tanaman yang diatur ketat.
Ruagan itu merupakan pengembangan rumah kaca, tetapi
tanpa melibatkan cahaya alam. Cara itu diyakini mamu memenuhi kebutuhan pangan
global secara berkelanjutan karena tak bergantung pada musim dan cuaca ektrim.
Hasil pertanian relatif besar. Dari ruang 100 meter persegi yang dibuat 14
lapis bidang tanam, mampu menghasilkan sayur dan buah untuk 140.000 orang,
masing-masing 200 gram. Namun , sistem itu tidak untuk tanama yang butuh ruang
luas, seperti jagung, beras dan kentang. Peneliti platlab, perusahaan swasta di
den bosch, belanda, gertjan meeuws, kepada AFP, mengatakan tanaman hanya
memanfaatkan cahaya matahari dalam panjang gelombang tertentu.
Di alam meereka beradaptasi berbagai panjang
gelombang. Dalam ruangan, tanaman diarahkan untuk beradaptasi dengan panjang
gelombang yang dibutuhkan saja.Uji laboratorium yang dilakukan Meens dan
rekannya menunjukan,sejumlah sayuran dan buah berhasil di tanam hanya
mengunakan penerangan cahaya merah dari lampu LED (light-emiting diode) dan
merah .teknik pencahayaan itu mampu menghasilkan laju pertumbuhan tanaman tiga
kali lebih cepat dibandingkan tanaman di rumah kaca biasa.Pertanian modern,
masa depan pertanian,sistem pertanian, pertanian dalam ruang.
b.
Pertanian Menggunakan Seni Dalam Pengolahan Lahan
(Visualisasi)
Seni menanam yang sangat telaten dan menakjubkan
bermunculan di sawah-sawah di Jepang. Para petani menciptakan tampilan mural
besar tanpa menggunakan tinta atau pewarna. Sebaliknya, tanaman padi dengan
warna-warna berbeda diatur dengan tepat sehingga tumbuh alami di sawah.
Sehingga saat musim panas, tanaman tumbuh dan jika dilihat dari atas, karya
seni yang rinci mulai muncul. Pertanian di Indonesia yang akan datang akan
menerapkan sistem ini, karena sistem ini mampu menjadi kawasan agrowisata yang
memiliki nilai komersial.
c.
Pertanian Menggunakan Sistem Komputerisasi Dan
Teknologi Canggih
Pada sistem pertanian ini menggunakan sistem
komputerisasi dan teknologi canggih, dimana pada saat pelaksanaannya tidak
menggunakan banyak tenaga kerja, tetapi hanya menggunakan beberapa pekerja
sebagai operator untuk mengatur penggunaan segala macam jenis alat dan sistem
dalam pertanian. Tentu saja sistem ini menggunakan sistem yang paling
tercanggih dengan operator yang handal. Selain itu perkembangan pengetahuan para
petani di masa mendatang akan lebih berkembang dibandingkan para petani di masa
sekarang yang dipengaruhi perkembangan teknologi yang semakin canggih sehingga
membuat para petani dimasa yang akan datang tidak akan canggung dengan adanya
sistem pertanian semacam ini.
d. Pertanian Di Dalam Gedung Dan Perkotaan
d. Pertanian Di Dalam Gedung Dan Perkotaan
Wacana krisis pangan global makin menghangat
akhir-akhir ini, berbagai media lokal dan internasional mulai ramai
memberitakan berbagai hal yang berkaitan dengan masalah ini seperti menjadi
bukti bahwa mimpi buruk yang sudah diramalkan tersebut akan segera menjadi
kenyataan. Melambungnya harga pangan dan beberapa peristiwa kelaparan yang saat
ini terjadi di belahan dunia memang bukanlah kejadian yang baru, namun
intensitasnya akhir-akhir ini memang mebuat miris.
Melambungnya harga pangan dunia dikarenakan berbagai
hal. Pertambahan jumlah penduduk yang tidak diimbangi oleh pertambahan jumlah
persediaan pangan adalah salah satunya. Daerah pedesaan mengalami kekurangan
resource dalam menjalankan peran sebagai supplier. Eksodus warga pedesaan
menuju area kota seperti tak terbendung, menggantungkan harapan pada pertanian
seperti menjadi opsi ke sekian bagi mereka.
Di latar belakangi hal tersebut lalu munculah sebuah
konsep unik membawa pertanian ke perkotaan. Adalah New York magazine yang
meminta empat orang arsitek untuk membuat porposal konsep pertanian vertikal,
yaitu mencoba membuat daerah perkotaan lebih mandiri dengan menyulapnya menjadi
daerah pertanian dan memangkas jalur bahan pangan.
Menarik sekali melihat beberapa konsep design
pertanian futuristik tersebut. Lihat saja beberapa yang gambar di bawah ini :
E.
TUNTUTAN DAN TANTANGAN PERTANIAN MASA DEPAN
a.
Tuntutan Kebutuhan Konsumen
Perubahan gaya hidup dan cara pandang terhadap pangan masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang akan berubah. Kecenderungan karakter konsumen yang akan terjadi pada masa depan dan sudah mulai dapat dirasakan saat ini antara lain adalah tuntutan konsumen terhadap keamanan, nilai gizi, cita rasa, dan ketersediaan pangan akan meningkat pesat. Pada masa depan akan semakin banyak orang yang makan di luar rumah, dan semakin banyak makanan instan di rumah. Keamanan dan mutu pangan akan menjadi isue penting, walaupun mungkin ketahanan pangan masih menjadi isue yang tidak kalah penting.Di Indonesia, pasar modern (hypermarket, supermarket, minimarket) akan tumbuh dengan laju pertumbuhan yang sangat tinggi. Walaupun jumlah supermarket chain besar berkurang, tetapi yang bertahan makin besar, sehingga keseimbangan kekuatan bergesar dari produsen/petani ke perusahaan multinasional. Kondisi ini akan menyebabkan adanya kompetisi antara produk pangan domestik dengan produk impor (yang sering kali lebih berkualitas dengan harga yang lebih murah). Tuntutan konsumen terhadap produk pertanian pada masa depan akan semakin meningkat, yang mau tidak mau, akan mempengaruhi kecenderungan manajemen produksi tanamanan. Tuntutan konsumen tersebut antara lain adalah:
1. Produk pertanian harus
benar-benar aman, bebas dari cemaran, racun, pestisida, & mikroba berbahaya
bagi kesehatan. Aturan mengenai batas maksimum residu (MRL = maximum
reside limit) pestisida akan semakin ketat, sehingga akan mempengaruhi
pengelolaan dalam perlindungan tanaman. Produk pangan juga harus bebas
dari kandungan zat berbahaya, termasuk logam berat dan racun. Keracunan sianida dari singkong, Hg dari ikan, Pb dari kangkung
dan sebagainya tidak akan terjadi lagi. Produk juga harus bebas dari
berbagai cemaran. Bahan pengawet dan pewarna yang
tidak diperuntukkan untuk pangan, seperti formalin, tidak akan digunakan sama
sekali.Kasus pencampuran minyak solar ke CPO seperti yang terjadi pada beberapa
waktu yang lalu tidak akan terjadi lagi. Cemaran biologi, baik yang
berbahaya bagi kesehatan manusia maupun bagi pertanian akan dicegah. Sanitary
and Phytosanitary Measuresakan semakin diperketat di
karantina. Peneliti Indonesia harus mempersiapkan diri
menghadapi hal-hal tersebut.
2. Produk pangan juga dituntut
mempunyai nilai gizi tinggi dan mengandung zat berkhasiat untuk kesehatan. Konsumen menghendaki informasi
mengenai kandungan fitokimia yang berkhasiat untuk meningkatkan kesehatan dalam
produk pangan. Karena itu penelitian mengenai
manfaat produk-produk pertanian tanaman pangan Indonesia perlu mulai segera
dilakukan. Pengetahuan indigenous mengenai manfaat produk
pangan perlu dibuktikan secara ilmiah dan diketahui apa fitokimia yang
terkandung di dalamnya.
3. Produk pangan juga harus
mempunyai mutu tinggi, tidak sekedar enak. Mutu adalah segala hal yang menunjukkan keistimewaan atau derajad
keunggulan sesuatu produk. Mutu atau kualitas juga dapat dipahami sebagai
kecocokan suatu produk dengan tujuan dari produksi. Dengan demikian, mutu merupakan gabungan dari sifat-sifat atau
ciri-ciri yang memberikan nilai kepada setiap komoditas yang terkait dengan
maksud penggunaan komoditas tersebut. Secara singkat mutu termasuk
semua hal yang dapat memuaskan pelanggan. Menurut versi Codex Alimentarius Standar mutu termasuk masalah
tampilan produk seperti keutuhan, keseragaman, kebebasan dari cacat, hama dan
penyakit, tingkat kematangan, kesegaran, kebersihan, ketahanan dalam
transportasi dan penanganan, dan kemampuan agar mutu produk bertahan tetap baik sampai tujuan. Kelas, kode ukuran, kemasan dan label juga menjadi hal yang
penting dalam mutu produk. Produsen pertanian perlu
melakukan pembenahan dalam sistem produksinya agar dapat memenuhi kepentingan
konsumen.
4. Produk pertanian harus
diproduksi dengan cara yang tidak menurunkan mutu lingkungan. Tuntutan terhadap
kelestarian lingkungan akan semakin ketat, padahal pada saat yang sama tekanan
populasi terhadap sumberdaya lahan semakin kuat.Karena itu peneliti Indonesia
perlu mengembangkan teknologi pertanian yang dapat menjamin produksi pangan
yang memenuhi tututan konsumen namun tetap dapat menjaga kelestarian
lingkungan, mencegah pencemaran tanah dan air, mencegah erosi dan hal-hal lain
yang menyebabkan penurunan kualitas lingkungan.
5. Produk pertanian juga harus
diproduksi dengan memperhatikan keselamatan dan kesejahteraan petani dan
pekerja.
6. Mempunyai traceability. Cara produksi pangan harus
dapat dirunut dari pasar sampai kebun. Data-data harus transparan dan
jujur. Karena itu catatan aktivitas di kebun dan
rantai pasar harus menajdi perhatian.
7. Produk pangan harus tersedia
dalam waktu yang tepat. Selain persyaratan di atas, produk pertanian harus tersedia dan
tepat waktu. Untuk produk pangan tertentu kontinyuitas
penyediaan menjadi faktor yang sangat penting.
8. Harga jual produk pertanian
harus kompetitif. Untuk itu efisiensi dalam produksi, dalam delivery harus
dilakukan. Harus dikembangkan supply chain management
(SCM) yang berkeadilan dan berorientasi pada nilai produk.
b.
Tantangan Pertanian
Berdasarkan tuntutan konsumen, masalah yang dihadapi dan kondisi pertanian dan lingkungan pertanian di Indonesia, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi oleh pertanian Indonesia. Tantangan ini harus dijawab oleh para ilmuwan pertanian.Tantangan tersebut meliputi :
1.
Bagaimana menghasilkan produk
pertanian dengan harga yang wajar bagi bagi populasi yang terus bertambah.
2.
Bagaimana meningkatkan hasil
per satuan luas (produktivitas); karena perluasan areal sudah semakin sulit.
3.
Bagaimana menghasilkan lebih
banyak produk pertanian dengan menggunakan air lebih sedikit.
4.
Bagaimana menghasilkan produk
pertanian yang lebih aman, bermutu dan bernilai bagi konsumen.
5.
Bagaimana menghasilkan produk
pertanian tanpa menurunkan potensi sumberdaya lahan dan lingkungan.
6.
Bagaimana cara menjamin
ketersediaan yang kontinyu produk pertanian yang secara alami bersifat musiman.
7.
Bagaimana menghasilkan produk
pertanian yang mensejahterakan petani.
8.
Bagaimana meningkatkan daya
saing global pertanian Indonesia. Seperti diuraikan di atas, dayasaing produk pertanian akan
ditentukan oleh kuantitas, kualitas, keamanan, kontinyuitas pasokan, ketepatan
delivery, kompetitif dalam harga, dan adanya
traceability.
F.
STRATEGI UNTUK MERAIH KEUNGGULAN PERTANIAN
Visi pertanian Indonesia adalah menjadi pertanian tangguh dan modern berbasis pada pengelolaan sumberdaya alam dan genetik secara berkelanjutan yang menjamin ketahanan, keamanan dan mutu pangan, penyediaan bahan baku industri dan kesejahteraan petani, serta berdaya saing global.
Visi pertanian Indonesia adalah menjadi pertanian tangguh dan modern berbasis pada pengelolaan sumberdaya alam dan genetik secara berkelanjutan yang menjamin ketahanan, keamanan dan mutu pangan, penyediaan bahan baku industri dan kesejahteraan petani, serta berdaya saing global.
Untuk mencapai visi tersebut strateginya meliputi:
- Pengembangan Sumberdaya Manusia. Pengembangan SDM pertanian tidak hanya dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dalam penerapan teknologi pertanian, tetapi juga untuk meningkatkan motivasi dan persepsi tentang pertanian modern, dan juga untuk perbaikan moral, transformasi tradisi dan kultur menjadi pertanian berbudaya industri.
- Penyempurnaan Kelembagaan Petani dan Pertanian. Salah satu penyebab rendahnya daya saing pertanian Indonesia adalah sempitnya lahan pertanian yang dikelola petani.Dalam kondisi seperti itu, petani pada umumnya mengelola lahan sempitnya secara sendiri-sendiri, tidak ada konsolidasi dalam pengelolaan lahan. Karena itu kelembagaan petani juga harus disempurnakan. Rekayasa sosial, penguatan kelembagaan, dan pendampingan oleh pakar menjadi kunci penting untuk peningkatan daya saing produk pertanian Indonesia. Rekayasa sosial seperti pengembangan Komunitas Estate Padi (KEP) yang sedang dikembangkan oleh Faperta IPB, program sarjana masuk desa yang dikembangkan LPPM dengan BULOG, dan aktivitas sejenisnya perlu dikembangkan untuk pemberdayaan dan peningkatan mutu SDM pertanian.
- Peningkatan Produktivitas dan Efisiensi. Produktivitas dan efisiensi dapat ditingkatkan antara lain dengan penerapan teknologi yang tepat. Good Agriculture Practices, Good Handling Practices, dan Good Manufacturing Practices, menjadi salah satu pilar dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Untuk mendukung hal tersebut diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, antara lain adalah: peta perwilayahan komoditas, sumber air irigasi yang mencukupi, jalan usahatani yang mendukung penyaluran hasilpertanian, perusahaan pembibitan yang profesional, laboratorium analisis tanah, stasiun meteorologi yang dapat memberikan informasi cuaca yang dapat diandalkan, klinik tanaman, laboratorium pengendali kualitas dan sarana pasca panen dan gudang yang memadai.
- Peningkatan Nilai Tambah Produk Pertanian. Peningkatan nilai tambah diarahkan kepada peningkatan pendapatan masyarakat petani dan perdesaan di luar kegiatan on farm, sekaligus mendukung kebijakan lahan pertanian, dengan banyaknya peluang pendatan dari kegiatan off farm. Peningkatan nilai tambah dapat dicapai melalui Pengembangan industri pertanian, pengembangan infrastruktur pertanian dan pedesaan, penguatan kelembagaan, profesionalisme tenaga kerja, sistem mutu produk pertanian, dan peningkatan daya saing produk dan pemasaran.
- Usaha untuk Kemandirian Pangan. Strategi kemandirian pangan diarahkan pada pemenuhan pangan nasional secara mandiri berdasarkan sumberdaya alam, kemampuan produksi dan kreativitas masyarakat. Keanekaragaman pangan ditingkatkan baik sumber maupun bentuk dan citarasa hasil olahan dengan basis tepung sebagai produk antara bahan pangan. Kemandirian pangan diupayakan melalui diversifikasi pangan, pengembangan infrastruktur pertanian dan pedesaan dan pengembangan budaya industri di pedesaan. Dengan keberhasilan diversifikasi pangan, konsumsi beras diperkirakan akan turun menjadi 90 kg/kapita/tahun.
- Pengelolaan lingkungan hidup yang produktif dan lestari diarahkan untuk terpeliharanya daya dukung lingkungan dengan produktivitas yang tinggi secara berkelanjutan, keaneka ragaman hayati serta keseimbangan interaksi antara semua unsur dan faktor lingkungan. Pengelolaan lingkungan yang produktif dan lestari dilaksanakan melalui upaya pengembangan sumberdaya alam secara lestari, pemberdayaan masyarakat, reklamasi lahan, perluasan areal pertanian dan pengadaan lahan pertanian pangan abadi.
- Penyempurnaan Sistem Pemasaran Produk Pertanian. Perlu dilakukanj pemberdayaan rantai pasar dengan Penerapan Supply-Chain Management, sehingga tipe dan karateristik hubungan bisnis berubah dari tipe transaksional menajdi tipe partneship sperti pada Gambar 1. Sehingga rantai pasokan ideal seperti pada Gambar 2 bisa tercapai.
- Kebijakan Makro yang Mendukung Pertanian. Untuk mendukung semua hal di atas, perlu kebijakan makro yanh mendukung pertanian, ialah: (a) pertanian menjadi platform pembangunan nasional, (b) akses pertanian terhadap lahan, modal, teknologi dan informasi memadai, (c) infrastruktur pertanian dan yang mendukung pertanian dikembangkan, (d) sektor industri dan jasa berkembang dengan pesat sehingga mampu menyerap tenaga kerja dari perdesaan dan sektor pertanian, (e) dilakukan pemberdayaan masyarakat perdesaan.
REFERENSI






Tidak ada komentar:
Posting Komentar