A.
PENDAHULUAN
a. Sejarah Islam
Islam muncul di Semenanjung Arab
pada abad 7 Masehi ketika Nabi Muhammad saw mendapat ayat-ayat Allah s.w.t.
Ketika Nabi Muhammad berumur 40 tahun, ia dikunjungi oleh Malaikat Jibril.
Setelah itu, ia mengajar ajaran Islam secara diam-diam kepada orang-orang
terdekat yang dikenal sebagai “as-Sabiqun al-Awwalun (yang pertama masuk
Islam)” dan kemudian secara terbuka kepada seluruh penduduk Mekkah, setelah
turun wahyu al quran surat al Hijr ayat 94.
Di tahun 622, Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya pindah dari Mekah ke Madinah. peristiwa ini dinamakan Hijrah. Sejak itu dimulai kalender Islam atau kalender Hijriyah. Warga Mekkah dan Madinah berjuang dengan Nabi Muhammad saw. dengan hasil yang baik meskipun ada di antara umat Islam yang tewas. Muslim akhirnya menjadi lebih kuat, dan menaklukkan kota Mekah. Setelah kematian Rasullullah s.a.w. Islam berkembang ke Samudra Atlantik di Barat dan Asia Tengah di Timur. Seiring waktu, Muslim dibagi dan ada banyak kerajaan Islam berkembang lainnya.
Namun, munculnya Islam sebagai
kerajaan kerajaan Umayyah, Abbasiyah, kerajaan Seljuk / Turki Seljuk, Ottoman
Empire, Mughal Empire, India, dan Kesultanan Malaka telah menjadi kerajaan yang
kuat. Tempat yang bagus untuk belajar ilmu pengetahuan telah menyadari sebuah
peradaban Islam yang agung.Banyak ahli dalam ilmu sains dan sebagainya muncul
dari negara-negara Muslim, terutama dizaman emas Islam.
b. Pengertian Islam
1.
Islam
menurut arti etimologi
·
Pertama, berarti al-khulush wa ‘t-ta’ari
mina ‘l-afati ‘z-zhahirati awi ‘l-bhatinati (bebas dan bersih dari penyakit
lahir dan batin).
·
Kedua, berarti as-shulhu wa ‘l-aman
(damai dan tentram)
·
Ketiga, at-tha’atu wa ‘i-idz’anu
(taatdan patuh)
·
Keempat, dari kata “assalmu”,
“assalamu”, dan “assalamatu” yang berarti bersih dan selamat dari
kecacatan-kecacatan lahir dan batin
·
Kelima, dari kata “assilmu” dan
“assalmu” yang berarti perdamaian dan keamanan (as-shulhu wal amaan)
·
Keenam, dari kata “assalamu” (la=dibaca pendek),
“assalmu”, dan “assilmu” yang berarti menyerahkan diri, tunduk, dan taat (al-istislamu
– al-idz’aanu – ath thaa’atu)
2.
Islam
menurut al-qur’an
·
Sebagai lawan dari syirik
·
Sebagai lawan daripada kufur
·
Dalam arti sama dengan ikhlas kepada
Allah
·
Dalam arti tunduk dan patuh kepada Allah
Jadi,
Islam adalah berserah diri kepada Allah SWT dengan mentauhidkan,
mengesakan-Nya, dan tunduk kepada-Nya dengan penuh kepatuhan akan segala
perintah-Nya serta menyelamatkan diri dari perbuatan syirik dan para pelakunya.
Allah
subhanahu wa ta’ala berfirman: “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang
menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan. Maka baginya pahala
pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati.” (Qs. Al-Baqarah: 112)
Rasulullah SAW bersabda: “Islam itu hendaklah
engkau menyaksikan bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah dengan benar
melainkan Allah, dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, hendaklah engkau
mendirikan sholat,
menunaikan haji ke Baitulloh jika engkau kuasa menjalaninya.” (Shahih Muslim I/135)
B.
PEMBAHASAN
a. Pemahaman Tentang Keindahan Islam
Agama Islam mempunyai
keindahan-keindahan yang justru kebanyakan kaum muslimin tidak menyadarinya.
Keindahan-keindahan tersebut meliputi seluruh syariat Islam yang kini semakin
terungkap dan mulai diketahui faidahnya. Sangat banyak sekali keindahan-keindahan Islam yang sekiranya kita
mau memikirkannya, niscaya kita tidak akan sanggup untuk mengupasnya lebih
dalam.
Contoh kecil saja syariat Islam yang
dicela kaum kafir bahkan umat Islam sendiri adalah adanya pembatas antara kaum
wanita dan laki-laki. Padahal pada larangan bercampur-baur tanpa batas antara
keduanya, terdapat manfaat yang banyak dan dapat menjauhkan dari bahaya yang
sangat besar.
1.
Islam agama yang diridhai Allah SWT
Di antara keindahan Islam yang
sangat mendasar, Islam adalah satusatunya agama yang diridhai oleh Allah
Subhanahuwata’ala. Allah Subhanahuwata’ala tidak menerima dari seorang hamba
selain Islam. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,
وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ
مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Barang siapa mencari agama selain agamaIslam,
sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85)
As-Sa’dit berkata, “Barang siapa
beribadah kepada Allah SWT dengan selain agama Islam yang Allah
Subhanahuwata’ala meridhainya untuk hamba-Nya, sungguh amalannya tertolak,
tidak diterima. Sebab, agama Islam sajalah yang mengandung ketundukan kepada
Allah l, ketulusan (dalam beribadah kepada-Nya), dan ketaatan kepada para
rasul-Nya. Siapa pun yang tidak membawa Islam berarti ia tidak menempuh sebab
keselamatan dari azab Allah l dan keberuntungan dengan pahala-Nya. Semua agama
selain Islam adalah batil.” (Tafsir as-Sa’di)
2.
Agama Islam adalah agama tauhid
Islam selalu mengajarkan untuk bertauhid kepada Allah, baik dalam
keimanan akan penciptaan alam semesta dan segala bentuk peribadatan, harus
ditujukan kepada Allah Ta’ala semata. Bahkan sebuah doa pun tidak boleh ditujukan kepada selain
Allah Ta’ala.
Rasulullah bersabda ”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi). Setiap bentuk
ibadah tidak boleh ditujukan kecuali hanya kepada Allah semata. Allah befirman
(yang artinya), ”Katakanlah : ’Hai orang-orang
yang tidak beriman, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” (QS. Al Kaafirun : 1 – 2)
Dengan hal ini, maka umat Islam dituntut untuk mengesakan Allah Ta’ala dengan mempersembahkan segala bentuk peribadatan hanya kepada
Allah saja, tidak kepada selain-Nya. Bayangkan jika apa yang disebut Tuhan itu
lebih dari satu? Tentu umat manusia tidak akan fokus di dalam beribadah.
Allah berfiman (yang artinya), ”Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan
selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada
hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat
berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)” (QS. Al Baqarah : 165)
3.
Islam mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju
cahaya
Keindahan Islam ini disaksikan oleh
semua mata manusia, dan dibuktikan oleh sejarah kehidupan manusia. Islam
mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid, mengeluarkan
manusia dari kegelapan kemaksiatan menuju cahaya ketaatan, kegelapan dan
kebodohan menuju cahaya ilmu. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ
إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُم
مِّنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا
خَالِدُونَ
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman. Dia
mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).
Orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan
mereka dari cahaya kepada kegelapan ( kekafiran) . Mereka itu adalah penghuni
neraka; mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)
Dahulu manusia berada di atas
Islam, mentauhidkan Allah l dalam beribadah kepada-Nya. Kemudian muncullah awal
kesyirikan di masa Nabi Nuh ‘Alaihisslam. Sekelompok manusia ketika itu
menjadikan Wadd, Suwa’, Yaghuts, dan Nasr sebagai sesembahan selain Allah
Subhanahuwata’ala. Allah Subhanahuwata’ala pun mengutus Nuh ‘Alaihissalam
menyeru manusia mengajak mereka keluar dari kegelapan syirik menuju cahaya
tauhid.
4.
Islam adalah agama yang mudah
Di
antara keindahan Islam, ia adalah agama yang mudah, tidak memberatkan sama
sekali. Bahkan, siapa yang berpegang dengannya, ia dapatkan semuanya dimudahkan
oleh Allah Subhanahuwata’ala. Akidah Islam adalah akidah yang mudah, karena ia
sesuai dengan fitrah penciptaan manusia.
Demikian
pula ibadah, muamalah, dan akhlak yang diajarkan Islam, semuanya mudah dan
mendatangkan maslahat (kebaikan kebaikan) dunia dan akhirat. Keindahan Islam
berupa kemudahan ini ditunjukkan oleh dalil-dalil dari al- Kitab dan as-Sunnah.
Allah Subhanahuwata’ala berfirman,
مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم
مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“… Allah tidak hendak menyulitkan
kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat- Nya
bagimu, supaya kamu bersyukur.” (al-Maidah: 6)
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا
يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Alah menghendaki kemudahan bagi
kalian dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian.” (al-Baqarah: 185)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah n
bersabda menegaskan pokok yang agung ini,
إِنَّ هَذَا الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ
الدِّينَ أَحَدٌإِلَّا غَلَبَهُ
“Sesungguhnya agama Islam ini
mudah, dan tidak ada seorang pun memperberat agama ini melainkan ia akan
dikalahkan.” (HR. al-Bukhari dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu)
5.
Kemenangan, kesuksesan dan kemuliaan hanya terdapat
dalam agama Islam.
Hal ini berdasarkan hadits shahih dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ashradhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah bersabda, ”Sungguh telah beruntung orang yang masuk
Islam dan diberi rizki yang cukup. Dan Allah memberikan kepadanya sifat qona’ah
(selalu merasa cukup dan puas) atas rizki yang ia terima” (HR. Muslim)
‘Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan oleh Allah
dengan (memeluk) agama Islam. Oleh karena itu, apabila kami mencari kemuliaan
dengan selain cara-cara Islam, niscaya Allah akan menghinakan kami.”
(Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Al
Mustadrak, I/62 dan ia nilai shahih. Adz Dzahabi menyepakatinya).
Hal ini karena dalam Islam ditekankan sikap qona’ah dalam setiap keadaan. Orang Islam adalah orang yang mengerti akan
takdir Allah yang baik ataupun tidak, sehingga betapapun kesulitan yang
dihadapi ataupun kebahagiaan yang didapatkan tidaklah membuatnya lupa akan
tujuan penciptaan dirinya, yakni beribadah hanya kepada Allah Ta’ala. Ketenangan dan kemulian yang
didapat tidak lain karena keyakinan akan janji Allah bagi orang yang beriman
kepada Nya.
6.
Islam adalah agama pemersatu, bukan pemecah
belah
Inti dari ajaran Islam
adalah mengesakan Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang difirmankan dan diwahyukan kepada
Rasul-Nya. Sehingga segala bentuk perpecahan adalah hal yang sangat dibenci
oleh Allah Ta’ala, dalam firman-Nya, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali
(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai” (QS. Ali ‘Imran : 103)
Dari hal ini, maksud
dari syariat Islam adalah bersatu, besama-sama mentauhidkan Allah Ta’ala. Sehingga segala bentuk perbedaan, baik dalam masalah hukum atau
tata cara peribadatan, selama berlandaskan kepada dalil Al Qur’an dan As Sunnah
yang shahih dan pemahaman yang benar, hendaknya tidak menimbulkan perpecahan di
tengah-tengah kaum muslimin. Karena tujuan dari berislam adalah bersatu untuk
bersama-sama beribadah hanya kepada Allah Ta’ala.
7.
Islam mengajarkan persamaan dan persaudaraan
antar sesama muslim
Agama Islam tidaklah membedakan antara bangsa yang satu dengan
yang lainnya, kulit yang satu dengan lainnya, dan bahasa yang satu dengan
lainnya. Ketika seseorang mengucapkan syahadat dengan benar dan disertai
pemahaman yang shahih, maka saat itu pula mereka adalah saudara kita, tanpa
memandang kedudukan, harta, bangsa atau lainnya. Allah Ta’ala
berfirman (yang artinya), ”Hai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah di antaramu adalah yang
paling bertakwa di antaramu.” (QS Al Hujurat : 13).
Ini adalah keindahan Islam yang agung, dimana banyak sekali muncul
peperangan disebabkan latar belakang seseorang atau bahkan hanya perbedaan
warna kulit semata.
8.
Islam tidak mengenal pengkultusan atau
pemujaan kepada seorang pun
Dalam syariat Islam, segala sesuatu ditempatkan sesuai dengan
haknya masing-masing. Manusia diperlakukan sebagaimana manusia yang tidak
memiliki sifat ketuhanan. Maka Islam tidak mengenal apa yang disebut sebagai
pembesar-pembesar agama yang dipuja dan disucikan.
Jangan sampai sebagaimana kaum musyrikin dahulu yang telah
menjadikan orang-orang berilmu atau pemuka agama mereka menjadi sesembahan yang
mereka sembah sebagaimana perkataan kaum Nuh yang Allah kisahkan dalam Al
Qur’an (yang artinya), ” Jangan sekali-kali
kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali
kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaguts, Ya’uq dan
Nasr” (QS. Nuh : 23)
Nama-nama itu sebenarnya berasal dari nama-nama orang yang sangat
beriman kepada Allah di waktu itu. Namun setelah mereka meninggal, setan
membisikkan kepada kaum mereka untuk membuat patung-patung di tempat mereka
beribadah dan dinamai dengan nama-nama mereka untuk mengingatkan kaumnya akan
kesalehan orang-orang tersebut.
Hal ini sebagaimana pula telah terjadi di zaman kita, dimana
seorang pemuka agama yang mempunyai banyak pengikut akhirnya dikultuskan oleh
para pengikutnya, bahkan kuburannya dibuat megah untuk menghormati sang pemuka
tersebut.
Padahal Islam tidak mengajarkan hal demikian dan tidak ada kedudukan
tertinggi di sisi Allah melainkan dilihat dari ketaatan dan ketakwaannya kepada
Allah Ta’ala, dan hanya Allah-lah yang mengetahui mana diantara hamba-Nya yang
bertakwa.
Uraian
di atas hanyalah segelintir dari keindahan Islam yang hendaknya diketahui kaum
muslimin, sehingga dapat menambah keimanan dan ketakwaannya kepada Allah Ta’ala. Adapun gambaran agama Islam yang disebut sebagai teroris,
diskriminasi, pembunuhan adalah karena ketidaktahuan mereka akan Islam yang
benar dan kurangnya pemahaman yang benar akan Al Qur’an dan Hadits Nabi
sehingga menimbulkan kerusakan yang sangat besar.
b. Islam Adalah Jalan Yang Benar
Agamaku
adalah islam, yaitu yang dituntunkan oleh Al-Quran dan Hadis
Nabi mengenai peribadahan kepada Allah dan ketaatan terhadap-Nya.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya
agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Qs. Ali Imran: 19)
Jibril
bertanya: “Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam!”
Rasulullah
SAW
bersabda:
“Islam
itu hendaklah engkau bersaksi bahwa tiada sembahan yang berhak disembah
dengan benar melainkan Allah, dan bahwasannya Muhammad adalah utusan Allah.
Mendirikan sholat. Menunaikan zakat. Berpuasa pada bulan ramadhan. Dan
mengerjakan haji ke Baitullah jika engkau mampu menjalaninya.” (Shahih Muslim I/135)
Pegangan utama seorang muslimah dalam memahami Islam adalah mengikuti Al Quran dan hadits. Allah telah menjamin akan menganugerahkan keistiqomahan kepada orang-orang yang mengikuti Al Quran, sebagaimana disebutkan tentang perkataan jin dalam Al Quran.“Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada jalan kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Ahqoof: 30)
Allah juga menjamin akan memberikan keistiqomahan kepada para pengikut rasul sholallahu ‘alaihi wassalam yang disebutkan dalam firmanNya,
“Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”(QS. Asy Syu’ara: 52)
Jadi, islam adalah satu-satunya agama murni samawi (agama yang diwahyukan Allah SWT kepada manusia melalui para Nabi/Rasul-Nya) yang merupakan agama menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Pegangan utama seorang muslimah dalam memahami Islam adalah mengikuti Al Quran dan hadits. Allah telah menjamin akan menganugerahkan keistiqomahan kepada orang-orang yang mengikuti Al Quran, sebagaimana disebutkan tentang perkataan jin dalam Al Quran.“Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan setelah Musa yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya lagi memimpin kepada jalan kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” (QS. Ahqoof: 30)
Allah juga menjamin akan memberikan keistiqomahan kepada para pengikut rasul sholallahu ‘alaihi wassalam yang disebutkan dalam firmanNya,
“Sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”(QS. Asy Syu’ara: 52)
Jadi, islam adalah satu-satunya agama murni samawi (agama yang diwahyukan Allah SWT kepada manusia melalui para Nabi/Rasul-Nya) yang merupakan agama menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
SUMBER
Anshari,
Endang Saifuddin, Haji. 1976. Kuliah Al-Islam. Jakarta. Rajawali

Tidak ada komentar:
Posting Komentar